PERSAMAAN GENDER DALAM BUSANA

OLEH : MUARA BAGDJA (PENGAMAT MODE)
Mode mengenal diskriminasi gender bagi pemakainya. Laki-laki mengenakan celana panjang. Perempuan menutup tubuhnya dengan rok. Itu faktor pembeda yang sudah diposisikan selama berabad-abad. Bahaya kalau sampai tertukar. Bisa dicurigai orientasi seksualnya. Begi pada awalnya.
Pada hampir setiap kelompok masyarakat tradisional di dunia kaum pria memakai celana panjang sebagai simbol maskulinitas. Pria Jepang mengenal celana longgar hakamas. Di India kaum pria membungkus kaki dengan celana putih sempit dhoti. Eropa mempunyai celana panjang pantalon, berasal Pantaloni, pemuka masyarakat asal Venesia.
Di Prancis, celana panjag lahir sebagai simbol pemberontakan terhadap kalangan istana, yang memakai celana selutut bernama kulot sebagai simbol kekuasaan kaum elite. Seorang pekerja tambahan di Amerika berjasa menemukan celana dari bahan denim bernama jins. Hanya di Skotlandia kaum pria tradisional memilih rok bermotif kotak-kotak yang disebut klit.
Ketika mesin uap ditemukan pada awal abad ke 20, orang Eropa mulai bepergian ke tempat jauh mengenakan kapal laut untuk berlibur. Di masa itu juga orang tertarik untuk berolahraga. Libur dan sport perlu busana khusus. Peminatnya bukan semata pria, tetapi juga wanita.
Maka wanita mulai coba-coba memakai celana panjang. Lebih praktis, juga mudah bergerak. Sifatnya masih terbatas. Terbatas kalangan elite yang mampu bepergian dan berolahraga. Terbatas juga dalam dua aktivitas tadi saja. Karena di Eropa ada masanya wanita pemakai celana panjang dilarang masuk kafe.
Dalam setiap kelompok masyarakat selalu saja ada orang yang bertindak dan bersikap nyeleneh. Cara pikirnya berbeda. Memandang hidup perlu di isi dengan kebebasan. Bintang film ternama era 1940-an. Marlene Dietrich dan Katherine Hepburn memberanikan diri tampil di depan umum dan dilayar lebar mengenakan celana panjang .
Mereka bukan pionir, tapi pembuka jalan. Jauh sebelumnya, di abad 19 kaum wanita sudah memakai celana sempit semacam kaus untuk melindungi organ penting dari debu dan cuaca buruk yang masuk lewat bawah rok lebar yang terbuka. Awal emansipasi dalam berpakian telah dimulai di masa itu.
Baru di zaman revolusi kaum muda era 1960-an celana panjang mengenal hak sama untuk dipakai pria maupun wanita. Perancang Yves Saint Laurent mencipta setelan jas dan celana panjang tuksedo untuk wanita. “Saya ingin melihat wanita sejajar dengan pria soal busana”, kata si perancang, seperti dikutip dari buku “Pants. A History Afoot” tulisan Laurence Benain.
Celana panjang yang sebelumnya dipakai pria, kini jadi milik wanita. Pakaian yang tadinya untuk aktivitas libur dan olahraga, bertambah peran sebagai pakaian kota.
Sekarang celana panjang di pakai kaum wanita untuk ke mana saja. Kantor yang sebelumnya melarang karyawan wanitanya memakai celana panjang untuk bekerja, sudah bersikap emansipatif dengan mengizinkan pemakaian busana yang mulanya milik pria itu.
Bahasa mode pun mengenal kata baju uniseks untuk menyebut celana panjang itu. Artinya, baju yang bisa dipakai pria, juga dikenakan wanita. Kata ini kemudian digantikan dengan istilah androgini pada tahun 1980-an, yang memiliki makna tampilan maskulin sekaligus feminim.
Wanita mulai ke luar rumah untuk bekerja di era 1970-an dan 1980-an. Sebagian besar malah berkarier. Mereka masuk dunia kaum pria yang sudah mulai lebih dulu menjabat posisi profesional. Untuk mendapat kedudukan sama dalam lingkungan yang didominasi pria, kaum wanita membutuhkan tampilan sama agar kehadirannya lebih dianggap.
Perancang Giorgio Armani terinspirasi kondisi itu. Ia menciptakan setelan jas untuk wanita bekerja dengan lebih ringan dari jas pria, yang kemudian ternama sebagai blazer. Jas tidak lagi semata busana pria, tapi sudah masuk perbendaharaan busana kaum wanita. Malah masa sekarang, jas sudah identik dengan busana wanita pekerja.
Emansipasi mode juga dilakukan dari sudut pandang kaum pria. Dulu, pria cukup memakai kemeja kantoran dan celana bahan model standar. Warna sebatas gelap. Kalau tidak hitam, ya biru dan abu-abu. Kalau ingin kemeja bermotif, pilihannya sebatas corak garis.
Kaum muda hippy yang cuek di era 1970-an punya pandangan baru. Mereka memperkenalkan gaya pakaian bunga-bunga dan warna-warni bagi pria. Itu ungkapan cinta dan damai. Bentuk protes terhadap perang Vietnam yang terjadi di masa itu.
Sejak itu pria mengenal kemeja bunga-bunga. Berani memakai kemeja merah jambu yang sebelumnya dipercaya hanya mungkin dipakai kaum wantia karena begitu feminim dan lembut. Banyak pakaian pria juga tidak lagi sekadar terbuat dari katun dan wol, tapi menjadikan pemakainya merasa nyaman dengan sutra dan viskos.
Malah perancang Jean Paul Gaultier berulang kali menjajal ro untuk kaum pria. David Beckham pernah muncul dengan rancangannya dalam sebuah acara. Tapi itu lebih gaya musiman sipebola yang termasyhur juga sebagai pria metroseksual.
Achmad Dhani dan Andi/rif sempat beberapa kali manggung dengan memakai rok. Itu juga tidak lebih dari atraksi panggung. Bukan kebutuhan sehari-hari. Beda dengan celana panjang, jas, merah jambu atau motif bunga-bunga yang telah di pakai dalam keseharian, baik untuk pria maupun wanita.
Dari perjalanan mode itu, kita melihat bahwa emansipasi dan persamaan gender tetap diperjuangkan untuk mendapatkan busana yang tidak saja bersifat universal, tapi juga uniseks.

Posting Komentar

0 Komentar